Kisah 1 Awal Haji Makka Daeng Tayang menjadi Ulama  Di Kab. Gowa Makassar

اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَا تُهُ

بِسْمِ ٱللَّٰهِ ٱلرَّحْمَٰنِ ٱلرَّحِيمِ

Kisah Menjadi  Di Kab. Gowa Makassar

Mukaddimah

Jumansur.com– bersyukur kepada Allah dengan mengucapakan Alhamdulillah, bersholawat kepada dengan mengucapkan Allahummasalli wasallim wabarik alai, di kali ini akan di bahas sebuah kisah lokal ulama di kab. Gowa makassar. Yang di beri nama Haji Makka.

Haji makka merupakan bagian dari ulama kitab yang memperolehpengajaran dan pengalaman keagamaan di tanah suci, ia tampil meretas mitos terhadap sejara ulama di gowa yang pernah di ramalkan sebelumnya. Hal ini di kaitkan dengan cerita tentang syekh yusuf yang kebesarannya sudah melegenda. Reputasinya sebagai ulama dan pejuang, bahkan pahlawan di dua negara (Indonesia dan Afrika Selatan) tidak tertandingi.

Mitos Ulama di Gowa

Berbagai mitos pun muncul,salah satunya, mitos bahwa di gowa tidak akan pernah ada ulama lagi sesudah syekh yusuf. Pasalnya, nasehat Syekh yusuf disepelehkan penguasa. Ia menolak praktik-prakti di kerarajaan Gowa yang melanggar ajaran . Terutama perjdian di legelkan, maraknya minum khamer di kalangan aparat. Juga tentang pungutan liar di pasar-pasar . Saat itu ia mengutuk tidak aka nada lagi ulama di gowa, karena nasehatnya tidak di ikuti, demikian bunyi mitos tersebut.

Namanya saja mitos , tentu hal ini tidak masuk akal, Tidak mungkin seorang ulama besar sekaligus syekh yusuf mendoakan sesuatu yang negative untuk negeri yang sangat di cintainya. Sumber local menyebutkan, syekh yusuf pernah sangat kecewa dengan raja. Lamarannya terhadapa putri raja di tolak oleh istana, membuat harga dirinya tertampar. Karena kekecewaan itu syekh yusuf berjanji tidak akan mengijak istana lagi, sebelum menjadi seorang sufi(massiara 1983). Akhirnya memang syekh yusuf berhasil menjadi impiannya menjadi sufi besar, antara lain memperoleh gelar mahkota KHALWATIYAH (tajul khalwaty). Sayangnya impiannya untuk tetap bisa kekampung halamannya di butta gowa tidak akan pernah terwujud. Kegigihannya menentang dan berperang melawan Belanda membantu kesultanan banten berujung pada penangkapan atas dirinya dan kemudian diasinkan ke Ceylon Aftrika selatan, hingga akhirnya wafat di negeri Nelson Mandela”ini.

2 Abad Kekosongan Ulama di Kabupaten Gowa

Kekayakinan akan adanya kutukan itu di kaitkan dengan realitas keulamaan di gowa. Pasca syekh yusuf yang hidup di abad ke 17, tidak di kenal lagi ulama di gowa hingga abad ke 19. Dua abad lebih merupakan masa kelam meyelimuti butta gowa makassar, tidak ada jejak yang bisa menjelaskan kekosongan ulama tersebut. Namun demikia, bahwa dalam masyarakat Islam pasti selalu ada ulama yang muncul setiap satu abad untuk melestarikan dan memperbaharui penerapan prinsif agama islam. Itu adalah jaminan Allah dan bukti dalam .

Prestasi tersebut dapat dilihat pada catatan sejarah yang di sebut Lontara Bilang di Gowa. William Commings menganalisis Lontara Bilang sebagai catatan sejarah mengagumkan dalam sejarah Kawasan asia tenggara. Entri Lontara Bilang berlangsung dari tahun 1630-an hingga 1751 dengan 2360 entri, atau rata-rata 19,1 entri setiap tahun (penulis sejarah) (Commings, 2010). Ada perhatian besar pada pralontara(penulis sejara) menandai tahapan tahapan penting dalam proses ilamisasi di Gowa Tallo. Mulai dari awal masuknya islam Karaeng Matoaya dan Alauddin pada tahun 1605.

Sejarah Awal Nilai-Nilai Budaya Islam di Terapkan di Kabupaten Gowa Sul-Sel Makassar

Awal dilaksanakan sholat jumat pertama di kerajaan Gowa pada tahun 1607. Peristiwa sunatan atas diri Tumenangadi Papambatuna tahun 1619 dan awal di perlakukan ritual perkawinan ala islam pada tahun 1626. Serta larangan bunga atas utang piutang yang di terapkan pada tahun 1631. Tahun 1632 ada ketentuan mengenai rokok yang sesuai dengan ajaran islam; Ada juga informasi orang Makassar yang pertama yang menunaikan ibadah haji ke Makkah, adanya pemberian nama arab atas anak yang baru lahir, pembangunan masjid baru, dan datangnya syekh islam dari luar negeri (commings 10)

Merosok tradisi menulis di kerjaan gowa tidak terlepas dari control dan tekanan pihak luar atas kehidupan masyarakat termasuk dalam kehidupan beragama. Hipotesis dari ini ialah peran ulama sepanjang abad yang disebut kelam tersebut di mainkan para kadi dan para tokoh agama yang tergabung dalam parewa syara'. Mereka inilah yang mengawal agama sepanjang sejarah kesultanan di Gowa dan kerajaan lainnya di Sulsel.

Sama halnya dengan terputusnya informasi tentang ulama, kehidupan keagmaan pun demikian. Setelah pesantren di Kalukubodoa, tidak tercatat lagi pusat pengajian sesudah itu, hingga awal abad ke-20. Masjid pun demikian halnya. Ketika Haji Makka datang di Sungguminasa ia hanya menemukan dua masjid. Masjid tua di Katangka dan satu lagi lainnya di Kampung Taeng. Itulah sebabnya usaha awal yang di lakukan Haji Makka adalah membangun masjid dan madrasah di sungguminasa, Keduanya menjadi dasar membangkitkan keislaman.

Penutup

Demikian kisah awal  Perjalanan Haji Makka Di kabupaten Gowa setelah Syekh yusuf dan insya Allah selanjutnya mengenai Haji Makka akan di uraian di pembahasan yang lain, semog ada manfaatnya, Wallahu Wa'lam bissawaf. Assalamu Alaikum Warahmatullahi Wabarakatu.

Hormat kami,

 

Jumansur, S. Pd.i